Digitalisasi Pendidikan: Mengapa Administrasi Masih Terjebak Cara Konvensional?
Digitalisasi
dan konvensionalisasi sejatinya adalah dua pendekatan yang memiliki karakter
dan kekuatan masing-masing. Digitalisasi menawarkan kecepatan, efisiensi,
kemudahan pelacakan data, serta jangkauan tanpa batas geografis. Sebaliknya,
pendekatan konvensional mengandalkan proses fisik, kertas, dan tatap muka
langsung yang selama puluhan tahun dianggap lebih “aman” dan “resmi”
Secara
teori, digitalisasi jelas lebih unggul. Proses yang sebelumnya memakan waktu
berhari-hari dapat diselesaikan dalam hitungan menit. Data dapat disimpan,
dicari, dan dianalisis dengan mudah. Namun, realitas di dunia
pendidikan—terutama di tingkat sekolah—sering kali menunjukkan paradoks: sistem
sudah digital, tetapi praktiknya masih konvensional.
FENOMENA DI
LAPANGAN PENDIDIKAN
Beberapa
contoh yang jamak ditemui:
- Perangkat pembelajaran sudah dibuat
dalam format digital, tetapi tetap diminta dalam bentuk cetak.
- Sertifikat pelatihan berbasis
digital baru dibagikan berbulan-bulan setelah kegiatan selesai.
- Persuratan masih mengandalkan tanda
tangan basah dan pengiriman fisik.
- Administrasi pembelajaran dicetak
tebal dan dijilid, meskipun sudah diunggah ke sistem.
Fenomena
ini menunjukkan bahwa digitalisasi di banyak institusi pendidikan baru
berhenti pada tahap alat, belum sampai pada perubahan budaya kerja.
MENGAPA
DIGITALISASI BERJALAN LAMBAT?
Menurut pandangan saya, ada
beberapa akar masalah utama.
Pertama, mindset birokrasi yang masih berorientasi bukti fisik.
Bagi sebagian pengambil
keputusan, dokumen cetak masih dianggap lebih sah dan meyakinkan. Arsip fisik
dipersepsikan “nyata”, sementara file digital dianggap rentan hilang atau
diubah. Ini bukan soal teknologi, tetapi soal kepercayaan.
Kedua, digitalisasi sering dipahami sebagai formalitas kebijakan.
Banyak lembaga sudah
memiliki platform digital, tetapi SOP-nya masih konvensional. Akibatnya, guru
atau tenaga administrasi harus bekerja dua kali: mengunggah file sekaligus
mencetak dokumen yang sama.
Ketiga, kesenjangan literasi digital.
Tidak semua pemangku
kepentingan memiliki tingkat literasi digital yang sama. Ketika sebagian sudah
nyaman dengan sistem daring, sebagian lain memilih “jalan aman” dengan kembali
ke kertas.
Keempat, lemahnya integrasi sistem.
Sertifikat digital yang
terlambat, misalnya, sering kali bukan karena sulit dibuat, tetapi karena alur
validasi dan otorisasi masih manual dan berlapis.
REFLEKSI
DAN OPINI PRIBADI
Menurut
saya, masalah utama digitalisasi pendidikan bukan pada teknologinya, melainkan
pada keberanian meninggalkan kebiasaan lama. Selama kertas masih
dianggap lebih sah daripada data, selama tanda tangan basah lebih dipercaya
daripada tanda tangan elektronik, maka digitalisasi hanya akan menjadi slogan.
Transformasi
digital seharusnya membuat pekerjaan guru lebih fokus pada pembelajaran, bukan
menambah beban administrasi. Ketika guru masih diminta mencetak dokumen yang
sudah digital, yang terjadi bukan efisiensi, melainkan kelelahan sistemik.
PENUTUP:
DIGITALISASI BUTUH KONSISTENSI, BUKAN SEKADAR APLIKASI
Digitalisasi
pendidikan tidak cukup dengan menyediakan platform atau aplikasi. Ia
membutuhkan konsistensi kebijakan, perubahan mindset, dan kepercayaan pada
sistem. Jika tidak, kita akan terus hidup dalam paradoks: berbicara tentang
masa depan, tetapi bekerja dengan cara masa lalu.
Opini ini
bukan untuk menolak pendekatan konvensional sepenuhnya, melainkan sebagai
ajakan untuk menempatkan digitalisasi secara utuh—bukan setengah-setengah—agar
pendidikan benar-benar bergerak maju.

Posting Komentar untuk "Digitalisasi Pendidikan: Mengapa Administrasi Masih Terjebak Cara Konvensional?"