Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

PISA 2025 Indonesia: Tantangan Literasi, Numerasi, Sains, AI, dan Masa Depan Pendidikan

PISA 2025 kembali menghadirkan cermin penting bagi dunia pendidikan Indonesia. Bukan sekadar tentang peringkat dan skor, hasil PISA menunjukkan bagaimana kemampuan siswa dalam membaca, matematika, sains, pemecahan masalah, serta kesiapan mereka menghadapi dunia yang semakin kompleks dan digital.

PISA 2025: Bukan Sekadar Soal Peringkat

Programme for International Student Assessment atau PISA merupakan asesmen internasional yang diselenggarakan oleh OECD untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, dan sikap siswa berusia sekitar 15 tahun. PISA tidak hanya melihat apakah siswa mampu menghafal materi, tetapi juga sejauh mana mereka dapat memecahkan masalah kompleks, berpikir kritis, dan menggunakan pengetahuan untuk menghadapi persoalan kehidupan nyata.

Indonesia telah berpartisipasi dalam PISA sejak 2001. Pada PISA 2025, asesmen melibatkan 91 negara dan ekonomi, dengan lebih dari 760.000 siswa secara global. Di Indonesia, sebanyak 14.168 siswa dari 419 sekolah mengikuti asesmen yang merepresentasikan sekitar 3,995 juta siswa berusia 15 tahun. OECD menyatakan bahwa data Indonesia memenuhi standar kualitas PISA dan layak dilaporkan.

PISA 2025 berfokus pada sains sebagai domain utama, sementara matematika dan membaca menjadi domain minor. PISA 2025 juga mengukur kemampuan computational problem solving serta aspek pembelajaran di dunia digital.

Lalu, bagaimana sebenarnya kondisi pendidikan Indonesia?

 

Hasil PISA 2025 Indonesia: Ada Tantangan Besar

Hasil PISA 2025 menunjukkan bahwa capaian rata-rata siswa Indonesia pada matematika, membaca, dan sains relatif tidak berubah secara signifikan dibandingkan PISA 2022. Namun, capaian tahun 2025 masih berada di bawah capaian Indonesia pada 2015.

Jika dibandingkan dengan negara-negara OECD, capaian Indonesia masih berada di bawah rata-rata dalam matematika, membaca, dan sains. Hal yang sama juga terjadi pada kemampuan computational problem solving.

Yang menjadi perhatian adalah rendahnya proporsi siswa Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih, yaitu tingkat kompetensi minimum yang digunakan PISA sebagai salah satu acuan kemampuan dasar.

Angkanya cukup mengkhawatirkan:

  • Sains: 37% siswa mencapai Level 2 atau lebih.
  • Matematika: hanya 17%.
  • Membaca: 27%.

Sebagai pembanding, rata-rata OECD mencapai 74% untuk sains, 65% untuk matematika, dan 69% untuk membaca.

Dengan kata lain, tantangan pendidikan Indonesia bukan hanya persoalan siswa yang memperoleh nilai rendah. Tantangannya jauh lebih mendasar, yaitu memastikan lebih banyak siswa memiliki kompetensi minimum untuk memahami informasi, menggunakan matematika, dan menjelaskan fenomena secara ilmiah.

 

Matematika Menjadi Alarm Terbesar

Dari tiga bidang utama PISA, matematika menjadi salah satu persoalan yang paling serius.

Hanya 17% siswa Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih dalam matematika. Pada level ini, siswa setidaknya sudah mampu memahami dan merepresentasikan situasi sederhana secara matematis tanpa harus selalu diberikan petunjuk langsung.

Lebih memprihatinkan lagi, hampir tidak ada siswa Indonesia yang berada pada Level 5 atau 6 matematika. Pada level tersebut, siswa sudah mampu memodelkan situasi kompleks, memilih strategi pemecahan masalah, serta membandingkan dan mengevaluasi berbagai strategi.

Hal ini memberikan pesan penting bagi pembelajaran matematika.

Pembelajaran matematika tidak cukup hanya mengajarkan:

rumus → contoh → latihan → ujian.

Siswa perlu lebih sering berhadapan dengan:

masalah nyata → data → pemodelan → strategi → argumentasi → evaluasi.

Dengan demikian, matematika tidak dipandang sebagai sekumpulan rumus yang harus dihafalkan, tetapi sebagai alat untuk memahami dan menyelesaikan persoalan kehidupan.

 

Literasi Membaca Bukan Sekadar Bisa Membaca

PISA juga memberikan gambaran penting mengenai kemampuan membaca.

Sebanyak 27% siswa Indonesia mencapai Level 2 atau lebih dalam membaca, sementara rata-rata OECD mencapai 69%. Pada tingkat minimum tersebut, siswa diharapkan mampu menemukan gagasan utama, menemukan informasi berdasarkan kriteria tertentu, serta merefleksikan tujuan dan bentuk teks ketika diberikan arahan.

Persoalannya menjadi lebih kompleks ketika siswa harus menghadapi teks yang panjang, informasi tersirat, konsep abstrak, serta membedakan fakta dan opini.

Hampir tidak ada siswa Indonesia yang mencapai Level 5 atau lebih dalam membaca, sedangkan rata-rata OECD mencapai 6%.

Ini menunjukkan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca tulisan.

Literasi berarti kemampuan untuk:

membaca → memahami → menafsirkan → mengevaluasi → menyimpulkan → menggunakan informasi untuk mengambil keputusan.

Karena itu, literasi seharusnya tidak hanya menjadi tanggung jawab guru Bahasa Indonesia. Setiap mata pelajaran pada dasarnya memiliki tanggung jawab membangun kemampuan literasi siswa.

 

Sains: Siswa Perlu Belajar Menggunakan Bukti

Dalam bidang sains, 37% siswa Indonesia mencapai Level 2 atau lebih, dibandingkan rata-rata OECD sebesar 74%.

Siswa pada level minimum setidaknya dapat mengenali penjelasan yang benar mengenai fenomena ilmiah yang familiar dan menggunakan pengetahuan untuk menilai validitas kesimpulan berdasarkan data yang diberikan.

Namun, hampir tidak ada siswa Indonesia yang mencapai Level 5 atau 6 dalam sains. Pada tingkat tersebut, siswa dituntut mampu menggunakan pengetahuan sains secara kreatif dan mandiri pada berbagai situasi, termasuk situasi yang belum familiar.

Artinya, pembelajaran sains perlu bergerak dari:

"Apa jawabannya?"

menuju:

"Apa buktinya?"

"Mengapa hal itu terjadi?"

"Bagaimana kita mengetahuinya?"

"Apa yang terjadi jika kondisinya berubah?"

 

Namun, Ada Kabar Baik dari Siswa Indonesia

Di tengah rendahnya capaian akademik, PISA 2025 justru menunjukkan sejumlah modal positif yang dimiliki siswa Indonesia.

Sebanyak 80% siswa Indonesia menyatakan bahwa mereka ingin tahu tentang banyak hal. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata OECD sebesar 73%.

Selain itu, 74% siswa mengatakan bahwa mereka berusaha lebih keras ketika menghadapi pekerjaan yang sulit, sementara rata-rata OECD sebesar 60%. Hanya 9% siswa Indonesia yang setuju bahwa sekolah merupakan pemborosan waktu, dibandingkan 24% pada rata-rata OECD.

Bahkan antara 2022 dan 2025 terjadi peningkatan:

  • curiosity naik 7,3 poin persentase;
  • usaha menghadapi pekerjaan sulit naik 7,2 poin;
  • persepsi bahwa sekolah membuang waktu turun 14,2 poin.

Ini adalah temuan yang sangat penting.

Siswa Indonesia ternyata memiliki modal sikap belajar yang cukup baik.

Persoalannya adalah bagaimana sekolah mengubah rasa ingin tahu dan kemauan berusaha tersebut menjadi kompetensi akademik dan kemampuan berpikir tingkat tinggi.

 

Tantangan Growth Mindset

Di sisi lain, terdapat temuan yang cukup menarik.

Hanya sekitar 30% siswa Indonesia yang menunjukkan growth mindset, sementara rata-rata OECD mencapai 69%. Growth mindset berkaitan dengan keyakinan bahwa kemampuan dan kecerdasan dapat dikembangkan melalui usaha, strategi, latihan, dan umpan balik.

Di Indonesia, siswa dengan growth mindset memiliki skor sains sekitar 17 poin lebih tinggi dibandingkan siswa dengan fixed mindset setelah memperhitungkan karakteristik sosial-ekonomi siswa dan sekolah.

Temuan ini mengingatkan kita bahwa pendidikan bukan hanya soal apa yang dipelajari siswa, tetapi juga bagaimana siswa memandang proses belajar itu sendiri.

Budaya sekolah perlu mengubah kalimat:

"Saya tidak bisa."

menjadi:

"Saya belum bisa."

Sebab kata belum membuka ruang bagi proses belajar.

 

Guru Masih Menjadi Kekuatan Penting

PISA 2025 juga memberikan gambaran positif mengenai dukungan guru.

Sebanyak:

  • 82% siswa mengatakan guru menunjukkan perhatian terhadap pembelajaran setiap siswa;
  • 85% mengatakan guru terus mengajar sampai siswa memahami;
  • 80% mengatakan guru memberikan bantuan tambahan ketika siswa membutuhkannya.

Artinya, narasi bahwa rendahnya capaian PISA semata-mata disebabkan oleh guru tidak sepenuhnya didukung oleh data.

Justru kita melihat bahwa dukungan guru relatif kuat, tetapi masih ada pekerjaan besar untuk memastikan dukungan tersebut menghasilkan kemampuan berpikir dan capaian akademik yang lebih tinggi.

 

AI Sudah Masuk ke Ruang Belajar

Salah satu bagian paling menarik dari PISA 2025 adalah munculnya Artificial Intelligence (AI) sebagai bagian dari ekosistem belajar siswa.

Sebanyak 53% siswa Indonesia melaporkan menggunakan AI chatbot untuk membantu belajar setidaknya sekali seminggu. Angka tersebut lebih tinggi daripada rata-rata OECD sebesar 46%.

AI digunakan siswa antara lain untuk:

  • merangkum teks: 39%;
  • melakukan riset awal terhadap topik baru: 32%;
  • membuat draft tulisan: 30%.

Hanya 7% siswa Indonesia yang melaporkan tidak pernah atau hampir tidak pernah menggunakan AI chatbot untuk tugas-tugas sekolah yang ditanyakan dalam PISA.

Fakta ini memberikan tantangan baru bagi sekolah.

Pertanyaannya bukan lagi:

"Apakah siswa menggunakan AI?"

Karena jawabannya sudah jelas: ya.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

"Apakah siswa mampu menggunakan AI secara kritis, etis, bertanggung jawab, dan tetap berpikir mandiri?"

Sekolah masa depan tidak cukup hanya mengajarkan digital literacy, tetapi juga membutuhkan AI literacy.

Siswa harus mampu mempertanyakan jawaban AI, memeriksa sumber, menemukan kesalahan, membandingkan informasi, dan mempertanggungjawabkan hasil pekerjaannya.

 

Teknologi: Membantu, tetapi Juga Bisa Mengganggu

Siswa Indonesia melaporkan menggunakan perangkat digital untuk kegiatan belajar di sekolah rata-rata 2,5 jam per hari, lebih tinggi daripada rata-rata OECD sebesar 1,7 jam. Namun, rata-rata 1,3 jam per hari juga digunakan untuk kegiatan non-belajar seperti hiburan.

PISA menemukan bahwa siswa yang mengalami distraksi digital dalam pembelajaran sains memperoleh skor sekitar 11 poin lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak mengalami distraksi, setelah memperhitungkan faktor sosial-ekonomi.

Menariknya, di Indonesia, siswa di sekolah yang melarang penggunaan telepon seluler di lingkungan sekolah sekitar 38% lebih kecil kemungkinannya melaporkan distraksi digital.

Ini menunjukkan bahwa transformasi digital dalam pendidikan membutuhkan aturan dan budaya penggunaan teknologi, bukan sekadar menyediakan perangkat.

 

Sekolah yang Aman Juga Berpengaruh terhadap Prestasi

PISA 2025 menemukan bahwa 24% siswa Indonesia melaporkan menjadi korban setidaknya satu bentuk bullying beberapa kali dalam sebulan atau lebih. Angka ini lebih tinggi daripada rata-rata OECD sebesar 20%.

Cyberbullying juga menjadi perhatian. Sebanyak 7% siswa Indonesia melaporkan bahwa informasi yang mengganggu tentang dirinya dipublikasikan secara daring tanpa persetujuan. Kelompok siswa tersebut rata-rata memiliki skor sains 18 poin lebih rendah.

Dengan demikian, menciptakan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari bullying bukan sekadar persoalan karakter.

School climate juga berkaitan dengan proses belajar.

 

Ketimpangan Sosial-Ekonomi Masih Berpengaruh

PISA menunjukkan bahwa latar belakang sosial-ekonomi tetap berkaitan dengan prestasi siswa.

Di Indonesia, siswa dari kelompok sosial-ekonomi 25% teratas memiliki skor sains rata-rata 47 poin lebih tinggi dibandingkan siswa dari kelompok 25% terbawah.

Namun ada sisi positif yang tidak boleh dilupakan.

Sekitar 15% siswa dari kelompok sosial-ekonomi kurang beruntung mampu masuk ke kelompok 25% siswa dengan performa sains tertinggi di Indonesia. Mereka dikategorikan sebagai siswa yang academic resilient.

Ini memberikan pesan penting:

Latar belakang keluarga memengaruhi peluang, tetapi bukan berarti menentukan masa depan seorang anak.

Sekolah dapat menjadi salah satu kekuatan penting untuk menciptakan mobilitas sosial.

 

Apa yang Harus Kita Pelajari dari PISA 2025?

PISA seharusnya tidak dibaca hanya dengan pertanyaan:

"Indonesia berada di peringkat berapa?"

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:

1. Apakah siswa kita mampu memahami informasi?

2. Apakah siswa mampu menggunakan matematika untuk menyelesaikan masalah kehidupan?

3. Apakah siswa mampu menggunakan bukti untuk membuat kesimpulan?

4. Apakah siswa mampu berpikir kritis?

5. Apakah siswa mampu menghadapi masalah yang belum pernah mereka temui?

6. Apakah siswa mampu menggunakan AI tanpa kehilangan kemampuan berpikir mandiri?

7. Apakah sekolah sudah menjadi tempat yang aman dan mendukung proses belajar?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar mengejar posisi dalam tabel internasional.

 

Dari "Teaching" Menuju "Learning"

Salah satu pelajaran penting dari PISA 2025 adalah perlunya perubahan paradigma.

Pendidikan tidak cukup hanya bertanya:

"Apa yang sudah diajarkan guru?"

Kita perlu bertanya:

"Apa yang benar-benar mampu dilakukan siswa setelah belajar?"

Perubahan ini tampak sederhana, tetapi memiliki konsekuensi besar.

Pembelajaran perlu bergerak:

dari hafalan → pemahaman

dari soal rutin → masalah nyata

dari jawaban tunggal → argumentasi

dari guru sebagai sumber informasi → guru sebagai fasilitator belajar

dari penggunaan teknologi → penggunaan teknologi secara bermakna

dari nilai akhir → perkembangan kompetensi


PISA 2025 dan Masa Depan Pendidikan Indonesia

Hasil PISA 2025 memang menunjukkan tantangan besar. Namun, laporan ini juga menunjukkan bahwa Indonesia memiliki modal yang tidak kecil.

Siswa memiliki curiosity yang tinggi, cukup banyak yang mau berusaha ketika menghadapi kesulitan, dukungan guru relatif kuat, dan kemampuan siswa untuk meminta bantuan kepada guru maupun teman juga tinggi.

Tantangannya adalah mengubah modal tersebut menjadi kemampuan nyata.

Karena pada akhirnya, pendidikan bukan tentang membuat anak mampu menjawab sebanyak mungkin soal.

Pendidikan adalah tentang membuat anak mampu menghadapi pertanyaan yang belum pernah diberikan sebelumnya.

 

Penutup

PISA 2025 seharusnya menjadi cermin, bukan vonis.

Ia menunjukkan kepada kita bagian mana yang masih lemah, tetapi sekaligus menunjukkan potensi yang dapat dikembangkan.

Indonesia membutuhkan generasi yang tidak hanya mampu membaca buku, tetapi mampu membaca dunia.

Tidak hanya mampu menghitung angka, tetapi mampu menggunakan angka untuk mengambil keputusan.

Tidak hanya mengetahui teori sains, tetapi mampu menggunakan bukti untuk memahami fenomena.

Tidak hanya menggunakan AI, tetapi mampu berpikir lebih kritis daripada AI.

Dan yang paling penting, tidak mudah mengatakan:

"Saya tidak bisa."

melainkan memiliki keberanian untuk mengatakan:

"Saya belum bisa. Tetapi saya bisa belajar."

Itulah barangkali salah satu pesan terpenting yang dapat kita bawa dari PISA 2025.

 

Sumber

OECD, PISA 2025 Results (Volume I): Future-Ready Students – Country Notes: Indonesia, OECD Publishing, 2026.

https://www.oecd.org/en/publications/pisa-2025-results-volume-i-country-notes_2d4ff9ea-en/indonesia_9c880f8a-en.html#section-d1e471

 

 

 

Posting Komentar untuk "PISA 2025 Indonesia: Tantangan Literasi, Numerasi, Sains, AI, dan Masa Depan Pendidikan"