Mengapa STEM Menjadi Inti Pembelajaran Mendalam di Kurikulum Baru? Ini Penjelasan Lengkapnya
KETERKAITAN
PENDEKATAN STEM DENGAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN MENDALAM
1. Keduanya Berpijak
pada Prinsip Konstruktivisme
Baik STEM maupun
pembelajaran mendalam menempatkan murid sebagai subjek aktif yang membangun
sendiri pengetahuannya.
- Dalam STEM, murid
memecahkan masalah nyata dengan mengintegrasikan sains, teknologi,
enjinering, dan matematika.
- Dalam pembelajaran mendalam,
murid tidak sekadar menghafal, tetapi memaknai, mengaitkan, dan
menerapkan pengetahuan ke dalam konteks baru.
Keterkaitannya: keduanya sama-sama menumbuhkan pemahaman konseptual yang mendalam melalui aktivitas autentik dan reflektif.
2. STEM Sebagai
Praktik Pedagogis Pembelajaran Mendalam
Panduan menyebutkan
bahwa pembelajaran mendalam memiliki sejumlah praktik pedagogis, salah
satunya adalah pembelajaran STEM. Artinya, STEM merupakan cara atau
strategi konkret untuk mewujudkan prinsip pembelajaran mendalam di kelas.
Contoh:
Dalam proyek “Rancang Alat Pemurni Air,” murid:
- Melakukan inkuiri ilmiah
(sains),
- Mendesain alat sederhana (enjinering),
- Menggunakan teknologi
sederhana (sensor, filter),
- Menghitung efisiensi alat (matematika).
Kegiatan ini menumbuhkan pemahaman mendalam, kreativitas, kolaborasi, dan kemampuan reflektif — semua ciri pembelajaran mendalam.
3. Keduanya Fokus
pada Kompetensi Abad ke-21
Baik STEM maupun
pembelajaran mendalam berorientasi pada penguatan:
- Berpikir kritis dan pemecahan
masalah
- Kreativitas dan inovasi
- Kolaborasi dan komunikasi
- Kemandirian belajar dan
karakter
Dalam Permendikdasmen No. 13 Tahun 2025 disebutkan bahwa pembelajaran mendalam diarahkan untuk membentuk delapan dimensi profil lulusan — dan STEM adalah salah satu praktik yang paling efektif untuk menumbuhkannya.
4. Fokus pada
Konteks Nyata dan Masalah Autentik
Keduanya sama-sama
mengaitkan pembelajaran dengan dunia nyata:
- Pembelajaran mendalam menuntut
keterhubungan antara konsep dan konteks sosial-ekologis murid.
- STEM menggunakan masalah nyata
(seperti energi, lingkungan, teknologi, atau ekonomi lokal) sebagai sarana
belajar lintas disiplin.
Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya “belajar tentang sesuatu”, tetapi “belajar untuk melakukan sesuatu.”
5. Penilaian dan
Refleksi Autentik
Dalam kedua pendekatan:
- Penilaian bukan hanya hasil
akhir, tetapi
juga proses berpikir, kolaborasi, dan refleksi.
- Murid dinilai melalui portofolio,
produk proyek, laporan riset, dan presentasi, bukan sekadar tes
tertulis.
Hal ini memperkuat
karakter pembelajaran yang mendalam dan bermakna.
Kesimpulan
|
Aspek |
Pembelajaran Mendalam |
Pembelajaran STEM |
Keterkaitan |
|
Fokus |
Pemahaman konseptual
dan reflektif |
Pemecahan masalah
lintas disiplin |
STEM adalah salah
satu praktik untuk mencapai pembelajaran mendalam |
|
Pendekatan |
Konstruktivistik,
kontekstual, kolaboratif |
Inkuiri, desain
rekayasa, berbasis proyek |
Sama-sama menekankan
pengalaman autentik |
|
Tujuan |
Profil lulusan |
Literasi STEM dan
kompetensi abad 21 |
Keduanya membentuk
karakter dan kemampuan adaptif murid |
|
Evaluasi |
Penilaian proses
& refleksi |
Penilaian autentik
berbasis produk dan proses |
Sama-sama menilai
proses berpikir dan kolaborasi |
Jadi, bisa disimpulkan
bahwa STEM adalah wujud nyata dari pembelajaran mendalam — bukan sesuatu
yang terpisah, melainkan pendekatan konkret untuk menumbuhkan kemampuan
berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan kontekstual pada peserta didik.

Posting Komentar untuk "Mengapa STEM Menjadi Inti Pembelajaran Mendalam di Kurikulum Baru? Ini Penjelasan Lengkapnya"